Karagenan, Pengemulsi Alami dari Laut

Karagenan merupakan salah satu jenis polisakarida hasil ekstraksi dari beberapa spesies rumput laut merah (Rhodophyceae). Karagenan adalah galaktan tersulfatasi linear hidrofilik. Galaktan tersulfatasi ini diklasifikasi menurut adanya unit 3,6-anhydro galactose (DA) dan posisi gugus sulfat. Terdapat tiga jenis karagenan komersial yang paling penting yaitu iota, kappa dan lamda karagenan (Distantina et al., 2010).

Karagenan sendiri merupakan zat aditif alami yang pemanfaatannya banyak dipakai dalam berbagai industri, seperti industri makanan dan kosmetik. Semi-refined carrageenan (SRC) adalah salah satu produk karagenan dengan tingkat kemurnian lebih rendah dibandingkan refined carrageenan. Disebut tingkat kemurnian lebih rendah karena masih mengandung sejumlah kecil selulosa yang ikut mengendap bersama karagenan. SRC secara komersial diproduksi dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii (nama dagang) atau Kappaphycus alvarezii melalui proses ekstraksi menggunakan larutan alkali kalium hidroksida (Saputra, 2012).

Kappa karagenan tersusun dari unit D-galaktosa-4-sulfat dengan ikatan β-1,3 dan unit 3,6-anhidro-D-galaktosa dengan ikatan α-1,4. Disamping itu karagenan sering mengandung D-galaktosa-6-sulfat ester dan 3,6-anhidro-D-galktosa-2-sulfat ester. Iota karagenan merupakan jenis karagenan dengan kandungan sulfat berada di antara lamda dan kappa karaginan. Iota karagenan tersusun dari ikatan 1,3-D-galaktosa 4 sulfat dan ikatan 1,4 dari unit 3,6-anhidro-D-galaktosa-2-sulfat. Lamda karagenan tersusun dari ikatan 1,3-D-galaktosa-2-sulfat dan 1,4-D-galaktosa-2,6-disulfat. Perbedaan lamda karagenan dengan kappa dan iota karagenan adalah karena lamda karagenan memilki sebuah residu disulfat α(1,4) D-galaktosa (Ulfah, 2009).

Menurut Setiawati (2007), pembagian karagenan menjadi kappa, iota dan lamda adalah berdasarkan sifat jelly yang dapat dibentu oleh masing-masing karagenan, yaitu kappa karagenan dengan jelly yang bersifat kaku, getas, kertas. Iota karagenan sifatnya jelly lembut, fleksibel, dan lunak. Sedanglan lamda karagenan tidak dapat membentuk jelly tetapi berbentuk cairan kental.

Saat ini jenis kappa karagenan banyak diproduksi dari rumput laut spesies Kappaphycus alvarezii, atau nama dagangnya Eucheuma cottonii. Penghasil iota karagenan adalah dari spesies Eucheuma denticulatum (dengan nama dagang Eucheuma spinosum), dan lamda karagenan umunya diproduksi dari genus Gigartina dan Condrus (Distantina et al., 2010).

Gambar 1. Struktur kimia karagenan

Gambar 2. Sifat-sifat karagenan

Pemanfaatan

Karagenan berperan penting sebagai stabilizator (bahan keseimbangan), thickener (bahan pengental), pembentuk gel, pengemulsi dan lain-lain. Karaginan dapat digunakan dalam pembuatan permen jelly dan produk makanan lainnya sebagai gel pengikat. Pemanfaatan karagenan sejauh ini lebih banyak digunakan dalam bidang pangan. Contoh produk makanan yang menggunakan karagenan sebagai salah satu bahannya adalah seperti ice cream, yogurt, wafer cream, coklat susu, roti, saus, puding instan, permen jelly, hingga makanan bayi. Kemudian pada produk minuman yaitu seperti minuman ringan, jus buah, bir, dan sirup. Selain itu menurut Sahri (2009), penggunaan karagenan dalam bidang lainnya adalah pada non pangan seperti pet food, bahan shampo, pasta gigi, salep, cream lotion, tonic rambut, stabilizer sabun, sun block lotion, serta pada bidang farmasi untuk bahan pengemulsi dan obat tablet.

Kappa karagenan termasuk produk olahan rumput laut yang bernilai ekonomi tinggi, yakni 10 sampai 20 kali harga rumput laut. Hal tersebut dikarenakan karagenan adalah produk akhir dari pengolahan rumput laut basah yang proses pembuatannya cukup rumit, dan hasil yang diperoleh banyaknya tidak sebanding dengan jumlah awal dalam bentuk rumput basah. (Mappiratu, 2009).

 

PUSTAKA

Distantina, S., Fadilah., Rochmadi., Moh Fahrurrozi., Wiratni. 2010. Proses Ekstraksi Karagenan dari Eucheuma cottonii. Seminar Rekayasa Kimia dan Proses. Solo: Universitas Sebelas Maret.

Mappiratu. 2009. Kajian Teknologi Pengolahan Karaginan dari Rumput Laut Eucheuma cottonii Skala Rumah Tangga. Media Litbang Sulteng Volume 2 Nomor 1 Oktober 2009.

Sahri, A., dan Suparmi. 2009. Mengenal Potensi Rumput Laut : Kajian Pemanfaataan Sumberdaya Rumput Laut dari Aspek Industri dan Kesehatan. Jurnal Universitas Sultan Agung. 44 (118): 95-116.

Saputra, R. 2012. Pengaruh Konsentrasi Alkali dan Rasio Rumput Laut-Alkali Terhadap Viskositas dan Kekuatan Gel Semi Refined Carrageenan (SRC) dari Rumput Laut Eucheuma cottonii. (Skripsi). Universitas Hasanuddin. Makasar. 53 hlm.

Setiawati, Tanti., 2007. Keunikan Rumput Laut dan Budi Dayanya. Mutiara Books. Jakarta.

Ulfah, M. 2009. Pemanfaatan Iota Karaginan (Eucheuma spinosum) dan Kappa Karaginan (Kappaphycus alvarezii) Sebagai Sumber Serat Untuk Meningkatkan Kekenyalan Mie Kering. (Skripsi). Institut Pertanian Bogor. Bogor. 111 hlm.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *