Tarakan Bangun Pabrik Pengolahan Rumput Laut Menjadi Bahan Setengah Jadi

 

pabrik rumput laut

DIMULAI pada tahun 2012, atas inisiasi Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kota Tarakan telah membangun bangsal atau pabrik pengolahan rumput laut yang berlokasi di Kelurahan Pantai Amal. Pabrik ini, dalam rancangan teknisnya memiliki kapasitas produksi  pengolahan 6 hingga 10 ton per hari atau sekitar 300 ton dalam sebulan dalam kondisi rumput laut kering

Dikatakan Kepala Bidang Usaha Perikanan dan Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Tarakan, Husna Ersant Dirgantara APi, pabrik pengolahan rumput laut ini diharapkan dapat menampung hasil budidaya rumput laut masyarakat, serta untuk memenuhi kebijakan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menginginkan agar pada tahun 2014 tidak ada lagi ekspor rumput laut Indonesia dalam bentuk bahan baku, minimal menjadi barang setengah jadi.

“Pembangunan pabrik ini merupakan salah satu upaya antisipasi diterapkannya kebijakan tidak ada ekspor bahan baku rumput laut. Tak adanya ekspor rumput laut, pastinya akan mempengaruhi harga jual rumput laut. Nah dengan adanya mini plant pabrik pengolahan rumput laut ini, kami harapkan harga jual rumput laut akan tetap stabil,” terangnya.

Selain itu, dengan terbangunnya pabrik ini, harga yang diperoleh para pembudidaya rumput laut, tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak. Tapi dapat langsung menjual hasil budidayanya ke pabrik pengolahan rumput laut dengan harga yang lebih baik. Guna diketahui, saat ini harga jual rumput laut kering Tarakan, lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia yang berkisar antara Rp 14 hingga 15 ribu per kilogram kering. Sementara di wilayah lain, harga rumput laut kering berkisar antara Rp 6 hingga 8 ribu per kilogram. “Nantinya, pabrik pengolahan rumput laut di Pantai Amal ini, tak hanya menampung rumput laut produksi pembudidaya Tarakan, tapi juga wilayah lain di sekitar Pulau Tarakan,” urainya.

Pembangunan pabrik pengolahan rumput laut Pantai Amal yang didanai APBN sekitar Rp 3,4 miliar dan Rp 2,7 miliar dari APBD Kota Tarakan untuk pembangunan fisik serta Rp 1,8 miliar untuk pengadaan peralatannya ini, diperkirakan sudah mencapai 65 persen untuk kegiatan fisik secara keseluruhan. Peralatan juga sudah mulai didatangkan secara bertahap. “Pembangunan bangunan pengolahan limbah telah mencapai 35 persen. Juga ada pembangunan bangunan rumah  generator set (genset), reservoir, lantai jemur, bak rau material, tangkai pemasak, tangki pembilas dan bak pembilasan dan pencucian,” ulasnya.

Ditargetkan, pertengahan tahun 2014, pabrik ini sudah dapat beroperasi.

“Saat ini masih dilakukan beberapa pembenahan, baik akses masuk dan IPAL (Instalasi Pengolahan Limbah) agar nantinya air hasil produksi tidak mencemari lingkungan sekitar,” urainya seraya mengatakan, pabrik pengolahan rumput laut Tarakan dapat menjadi rujukan dan bahan percontohan bagi pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mencari model pengembangan pengelolaan hasil budidaya rumput laut yang tepat.

DIKELOLA SWASTA, DIKONTROL PEMERINTAH

Pabrik ini rencananya akan dikelola oleh pihak swasta, dengan catatan pemerintah dapat masuk dan melakukan kontrol agar terjadi keseimbangan atau tak hanya mengedepankan benefit profit. “Meski bangsal pengolahan rumput laut tersebut akan dikelola oleh pihak swasta, pemerintah tetap dapat melakukan control agar tidak terjadi permainan harga rumput laut. Bila perlu, pengelola melakukan pembinaan agar hasil produksi rumput laut tetap bagus,” jelasnya.

Dikatakan Ersant, sudah ada beberapa perusahaan swasta yang telah mengajukan pengelolaan pabrik pengolahan rumput laut Pantai Amal. Penetapan pengelola pabrik rumput laut masih dipending, hingga proses pembangunan sarana prasarana penunjang pabrik benar-benar rampung. “Dengan semakin banyaknya perusahaan swasta yang antusias untuk mengelola pabrik tersebut, untuk menentukan siapa yang berhak mengelola, kemungkinan kami lakukan proses pelelangan,” ulasnya.

Dalam pengolahannya, pabrik ini memiliki kemampuan mengolah rumput laut dalam bentuk kering maupun basah. Tapi, untuk tahap awal, pabrik ini akan melakukan pengolahan rumput laut dalam bentuk kering. Rumput laut kering ini akan diolah melalui pemasakan dalam pH basah, kemudian dijemur lalu dipotong menjadi chip. “Produk akhir dari pabrik pengolahan rumput laut pantai Amal tersebut adalah ATTC berbentuk batangan yang belum dapat dikonsumsi, dan merupakan produk rumput laut setengah jadi,” ungkap Ersant seraya mengatakan perlu dua tahapan lagi dari produk rumput laut setengah jadi untuk sampai pada produk tepung yang harganya lebih mahal dan umumnya dijadikan bahan baku kosmetik, obat-obatan, campuran makanan, campuran susu dan bahan baku lainya.(***)

 Sumber Berita: http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Kaltara/47454

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *